ALways be SinCeRe, eVen When YoU Don'T Mean iT...

AgiTa

Kampus sore hari itu tampak sepi, hanya beberapa mahasiswa terlihat melakukan aktivitas mereka dan seakan tak mempedulikan keberadaan sore yang mulai merambat naik mendatangi hari. Di antara mereka tampak ada juga yang ingin menyudahi sore itu dengan bersiap-siap untuk pulang setelah melakukan aktivitas mereka. Wajah mereka menyiratkan kepenatan yang mendera tubuh dan pikiran mereka.

Langkah demi langkah Dimas menapaki koridor menuju lapangan basket, tempat biasa ia menghabiskan waktu sore dengan latihan basket bersama teman-temannya. Seperti biasanya, ia bermain basket bersama teman-temanya dan sore itu merupakan kali pertama ia muncul di lapangan basket. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, ia tak lagi punya semangat kuat untuk kembali bangkit dari keterpurukan yang menimpa hatinya.

Saat Dimas menampakkan diri di lapangan, teman-temannya tampak cukup terkejut dengan kehadiran Dimas sore itu.

“Hai Dim, akhirnya sobat kita yang satu ini keluar juga dari persembunyiannya,”canda Devis, salah seorang sahabatnya.

Candaan Devis ternyata tidak digubris oleh Dimas. Dimas memilih berlalu dari teman-temannya dan duduk di salah satu sudut lapangan. Ia seakan-akan tak punya semangat untuk memulai latihan basketnya.

“Masih nggak mau cerita Dim!” Ari mencoba mencari tahu apa yang ada di hati Dimas saat itu.

“Ada apa sich Dim?” Surya menimpali.

Dimas memang dikenal sebagai cowok dingin, pendiam, dan tak banyak bicara diantara teman-temannya yang lain. Teman-temannya pun mengerti bagaimana sifat Dimas.

Dimas menghela nafas dan menatap ketiga sahabatnya. Perasaannya benar-benar terusik. Lalu dengan hati-hati, ia mulai meluncurkan kata-kata…
“Aku melihat perempuan itu…sangat cantik…dan seakan menemukan Hanum dalam dirinya,” Dimas meluncurkan kata-katanya.

Mereka semua terpana dan terkejut dengan apa yang telah diucapkan oleh Dimas.
“Cewek siapa Dim? Kamu lihat di mana?”, Ari mencoba meminta penjelasan.

Sesungguhnya, dulu Dimas adalah sosok yang periang. Namun setelah peristiwa besar dalam hidupnya, ia berubah 180 derajat dari Dimas yang dulu didapati oleh teman-temannya. Peristiwa yang menyebabkan gurun hatinya begitu kering. Peristiwa yang akan terus terlukis jelas di kanvas hatinya. Hari di mana ia kehilangan separuh nafas hidupnya.

Kejadian itu diketahui pasti oleh sahabat-sahabat Dimas yang lain. Hari di mana Dimas mendapati Hanum, kekasih yang telah setia selama 3 tahun perjalanan cinta mereka, terbujur kaku di salah satu ranjang rumah sakit.

Pada hari itu, ketika ia sedang latihan basket bersama teman-temannya. Sayup-sayup ia mendengar telpon genggam yang berada di tasnya berdering. Sesaat ia lalu menghentikannya latihannya dan berlari menghampiri tasnya. Dengan perasaan heran seraya melihat layar telponnya yang menunjukkan bahwa yang menelponnya adalah mama hanum, ia segera menjawabnya.

“Halo..Tante ada apa?” Dimas menjawab diselimuti perasaan heran karena tak biasa tante Hesti, mama Hanum menghubunginya.

Belum selesai keterkejutan Dimas, ia mendapati suara di seberang sana menjawab sapaannya dengan suara tangisan.

“Dimas, Hanum..Hanum..!”, suara itu terdengar tidak jelas di telinga Dimas.

“Hanum di rumah sakit Dimas...!” kembali tante Hesti memberitahu Dimas dengan terbata-bata.

“Ada apa Dim ?” Surya mencoba mencari tahu.

“Hanum di rumah sakit..!” Dimas memberitahu sambil dengan segera berlalu mengambil tas menuju mobilnya dengan kepanikan yang luar bisa. Tanpa pikir panjang pun mereka segera mereka mengikuti Dimas menuju rumah sakit tempat Hanum berada.

Dimas memacu pedal gas dengan kecepatan mobil yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Di dalam mobil suasana begitu hening dan tak ada yang berkata sepatah kata pun.

10 menit kemudian, Dimas dan kawan-kawan sampai di rumah sakit yang dituju.
Namun 10 menit ternyata waktu yang telah merenggut jiwa Hanum. Dimas tak sempat melepas kepergian Hanum. Ia terpekur dan tak bergeming memandangi jasad Hanum yang telah terbujur kaku. Isak tangis tante Hesti pun tak urung memecah keheningan kamar rumah sakit tersebut.

Dari tante Hesti, Dimas mengetahui bahwa sore itu secara diam-diam Hanum mengikuti latihan ice skating. Ice skating merupakan hobi yang telah ditekuni Hanum sejak kecil. Ia sangat mencintai ice skating. Hobi tersebut ternyata berbuah manis setelah bertahun-tahun latihan. Ia berhasil memenangi beberapa lomba ice skating yang diikutinya.

Namun ketika kebahagiaan tersebut tengah dirasakannya. Penyakit itu, ya penyakit gangguan jantung yang datang tak berperasaan. Awalnya setiap hari yang dirasakannya hanyalah putus asa dan putus asa. Dimas tak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun. Berkat dorongan moril yang diberikan Dimas dan mamanya setiap hari, akhirnya ia bisa menerima hal tersebut walaupun pahit sekalipun.

Seperti yang diketahui oleh Dimas bahwa disebabkan gangguan jantung yang dideritanya tersebut, Hanum dilarang bermain ice skating terlalu keras. Namun tanpa diketahui oleh Dimas dan tante Hesti, Hanum nekad pergi bermain ice skating dengan dalih pergi ke toko buku, namun ternyata ia melakukan apa yang selama ini dilarang dokter untuknya.
Pengawas tempat latihan ice skating tersebut memberitahukan bahwa pada sore itu Hanum latihan sangat bersemangat hingga lupa pada penyakitnya tersebut. Ia bagaikan burung yang baru lepas dari sangkarnya dengan berusaha terbang setinggi-tingginya. Tak berapa lama saat latihan tersebut, pengawas melihatnya jatuh tersungkur sambil memegangi dadanya. Akhirnya pengawas yang mengenal Hanum sangat dekat itu, menghubungi mama hanum.

Dan terjadilah kejadian yang menakutkan itu. Jiwa Hanum lepas dari tubuhnya..pergi meninggalkan dunia ice skating yang sangat dicintainya.


Semenjak kejadian tersebut, hari-hari yang dilalui Dimas seakan-akan kering, tak bersemangat. Ia seperti kehilangan separuh hidup, separuh warna yang telah memberikan kilatan cahaya terang dalam hidupnya. Sampailah pada hari di mana siang itu ia melihat sosok itu kembali hadir di bundaran ice skating. Melakukan gerakan yang begitu indah, seindah pancaran wajahnya yang begitu syahdu. Tempat ice skating di mana Hanum dulu sering melakukan latihan ice skating. Tempat yang menjadi saksi bisu saat detik-detik Hanum tersungkur tak berdaya. Sosok yang dilihatnya diakui memiliki gambaran Hanum dalam diri gadis berlesung pipi itu.

Saat melihat gadis itu, Dimas seakan-akan menemukan kembali cahaya hidup yang pernah terenggut darinya. Namun hatinya seakan belum mengizinkannya untuk berkenalan dan mengetahui siapa gadis itu.

Setelah tiga hari berturut-turut Dimas mengamati gadis pemain ice skating itu, ia tak dapat lagi menahan rasa penasaran yang bergelayut di hatinya. Ia merasakan hidupnya seakan bercahaya dan beraroma lagi ketika melihat gadis itu. Sore itu, ia dan Yumi, adiknya sengaja menghabiskan waktu sore di tempat bundaran ice skating, tempat biasa gadis itu latihan ice skating.

“Ngapain kita ke sini kak? Kakak cari siapa sich?”tanya Yumi penasaran.

“Yumi capek kak, dari tadi kita cuma berputar-putar di sini?” desak Yumi.
“Udah kamu tenang dulu, kakak lagi mencari seseorang, tapi kok hari kakak nggak liat dia ya” Dimas menjelaskan sambil sesekali menyapu pandangannya ke sekeliling.

Dimas akhirnya menyerah karena tak menemukan apa yang dicarinya.

“Udah ayo kita pulang, mungkin hari ini dia tidak latihan” ajak Dimas pada Yumi.

“Cari siapa sich, kakak serius amat!” Yumi penasaran.

“Mau tau aja, ayo pulang!” Akhirnya Dimas dan Yumi melangkahkan kaki mereka keluar dari tempat permainan ice skating itu.

Sesampainya di rumah, Dimas tak dapat menahan rasa penasarannya untuk mengetahui identitas gadis itu.

“Ah, kenapa aku gak nanya sama pengawas tempat ice skating itu, siapa tau dia kenal gadis itu” rutuk Dimas dalam hati.

Akhirnya ia kembali ke tempat itu dengan sejuta rasa ingin tahu yang berkecamuk.

Sesampainya di sana, ia langsung mendatangi petugas pengawas bundaran ice skating itu.
“Maaf mas, saya boleh tanya-tanya sebentar?”, sapa Dimas pada pengawas tempat itu.

“O..boleh ada apa ya?” tanya pengawas pada Dimas.

“Begini mas, mas sering melihat ada gadis rambut panjang yang sering main ice skating di sini gak?”.

“Yang main ice skating di sini banyak mas!” pengawas menjawab.

“Itu loh mas gadis rambut panjang yang berlesung pipi yang main ice skating di sini setiap hari Jum’at sore, ya setiap Jum’at sore” Dimas berkata sambil mengingat hari di mana biasanya gadis main ice skating.
“O..apa yang mas maksud nona Agita..?” jawab pengawas mencoba menerangkan.

“Gadis yang selalu mengenakan gelang warna biru dengan gantungan lumba-lumba itu kan mas!” tanya pengawas lagi.

“Ya betul” Dimas menjawab dengan binar wajah yang cerah. Iya memang selalu melihat gelang cantik dengan gantungan lumba-lumba yang selalu dikenakan Agita saat ia latihan.

“O iya mas, apa saya boleh tahu identitasnya?” pinta Dimas dengan wajah penuh harap.

“Apa mas belum tahu?”,tanya pengawas yang tiba-tiba wajahnya berupa sedih.

“Tahu tentang apa ya mas?” bujuk Dimas pada pengawas itu.

‘Apa mas yakin ingin mengetahui identitasnya nona Agita?,apa mas gak tahu kalau nona Agita itu” tiba-tiba saja pengawas itu berhenti bicara dan Dimas pun semakin penasaran tentang hal apa yang disembunyikan oleh pengawas itu.

“Ada apa dengan Agita mas?” Dimas semakin penasaran karena tak kunjung juga memperoleh penjelasan yang jelas.

“Nona Agita itu….hmm…nona Agita…itu…” pengawas itu seakan enggan untuk mengucapkan kalimat itu.

“Tolong mas beritahu saya, ada apa dengan Agita?” Dimas semakin tak bisa menahan dirinya.

“Nona Agita itu tunarungu mas..!”.

Kalimat singkat yang disampaikan oleh pengawas itu seakan-akan menghempaskan dunia Dimas ke dalam ruang yang begitu gelap. Ia termangu tak percaya atas apa yang didengarnya. Mengapa di saat cahaya hidup yang telah padam dulu kembali hidup, ia kembali terhempas pada kegelapan itu bahkan sebelum ia sempat mengenal gadis yang bernama Agita. Gadis yang secara tak langsung telah memberikan dan menghidupkan kembali cahaya hidup dan semangat hidup yang pernah terenggut darinya.

“Apa.!” ujar Dimas tak percaya atas kenyataan tersebut.

“Iya mas, Agita itu tunarungu” ujarnya mengulang pernyataannya.

Setelah mendengar penjelasan itu, akhirnya Dimas mohon diri pada pengawas. Namun ia tetap membawa alamat dan identitas Agita dalam genggamannya. Dengan langkah lesu, ia meninggalkan tempat itu disertai pikiran yang berkecamuk dan perasaan yang tiba-tiba kosong.

Semua perasaannya berkecamuk tak menentu. Langkah berat mengiringnya pada memori saat ia melihat Agita untuk pertama kalinya. Ia tak menyangka bahwa gadis manis itu ternyata mempunyai kekurangan yang seolah-olah tak terlihat dari pancaran luar dirinya.

Sore yang lembab dengan kuncuran hujan yang membasahi hati membawanya ke lapangan basket, tempat biasa di mana ia biasa menghabiskan sore bersama teman-teman basketnya dengan harapan ia dapat mencari penghiburan untuk hatinya.

Kehadirannya sore itu memang sangat mengejutkan sahabat-sahabatnya. Setelah beberapa hari mereka tak mengetahui kabar Dimas. Dimas pun menceritakan apa yang telah dialaminya beberapa hari ini kepada teman-temannya. Bahwa ia telah menemukan jati diri Hanum pada seorang gadis yang juga seorang pemain ice skating. Tapi ada gurat kesedihan yang terpancar dari pancaran wajahnya saat menceritakan perasaannya.

“Gadis itu bernama Agita, seorang pelukis dan pemain ice skating” Dimas menguraikan.

“Ada apa Dim, seharusnya kamu senang udah bisa tahu identitas gadis itu” ujar Surya heran.

“Tapi Agita itu…Agita…tunarungu!” Dimas berujar terbata-bata.

“APA..!” Serempak mereka tak percaya.

Mereka tak percaya dengan kalimat yang telah meluncur dari mulut Dimas.
Tetapi, beberapa saat terdiam, mereka saling berpandangan satu sama lain, seolah dapat membaca pikiran masing-masing. Pikiran mereka serempak melayang beberapa waktu yang lalu ketika mereka sedang menghabiskan waktu di salah satu toko buku. Saat dimana tanpa sengaja, Ari memergoki Dimas tanpa sadar mengambil salah satu buku yang membuatnya tersentak dan ia pun tak menyadari buku apa yang diraihnya.

BUKU PANDUAN BAHASA ISYARAT...


MR..03.20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar